Laporan Modul 4 Kelompok 22
Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System Berbasis STM32
untuk Keselamatan Rumah Tinggal di Kawasan Huntara
1. Pendahuluan [kembali]
Kebakaran rumah tinggal masih menjadi salah satu permasalahan yang sering terjadi di Indonesia, termasuk di Sumatra Barat. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang tahun 2026, tercatat lebih dari 100 kasus kebakaran terjadi dalam beberapa bulan pertama tahun 2026 dan sebagian besar disebabkan oleh korsleting listrik. Hal ini menunjukkan bahwa bahaya overload listrik dan keterlambatan deteksi kebakaran masih menjadi masalah serius di lingkungan masyarakat.
Penggunaan stop kontak bertumpuk, instalasi listrik yang kurang baik, serta kurangnya sistem monitoring dini menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kebakaran rumah. Selain itu, masyarakat sering terlambat menyadari adanya asap atau sumber api sehingga penanganan menjadi lebih sulit dilakukan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan sebuah sistem Early Warning System (EWS) sederhana yang mampu mendeteksi potensi bahaya kebakaran sejak dini. Oleh karena itu, pada project ini akan dirancang sebuah sistem peringatan dini berbasis mikrokontroler STM32 yang mampu mendeteksi overload listrik, asap, dan api menggunakan beberapa sensor. Sistem akan memberikan peringatan secara otomatis melalui alarm buzzer, pemutusan aliran listrik menggunakan relay, dan tampilan informasi pada LCD.
- Membuat prototype Smart Early Warning System berbasis STM32.
- Mendeteksi overload listrik menggunakan sensor arus.
- Mendeteksi asap dan api sebagai indikasi awal kebakaran.
- Memberikan peringatan dini secara otomatis melalui buzzer, relay, dan LCD.
- Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai keselamatan listrik rumah tangga.
3. Alat dan Komponen [kembali]
- Input (Sensor)
- Sensor Arus ACS712
- Sensor Asap MQ-2
- Flame Sensor
4. Landasan Teori serta Grafik Respon Sensor [kembali]
- Input (Sensor)
Dalam sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System, sensor ACS712 digunakan untuk memantau besarnya arus yang digunakan oleh beban listrik rumah. Apabila arus melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan, STM32 akan mengidentifikasi kondisi overload sebagai potensi bahaya kebakaran akibat pemanasan berlebih pada instalasi listrik dan selanjutnya mengaktifkan mekanisme peringatan dini.
- Flame Sensor
Modul Flame Sensor yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari sensor inframerah, rangkaian pengondisi sinyal, potensiometer pengatur sensitivitas, serta IC komparator LM393. Ketika cahaya inframerah dari api mengenai sensor, nilai tegangan keluaran sensor akan berubah. Perubahan tegangan tersebut kemudian dibandingkan oleh LM393 dengan nilai ambang yang telah ditentukan. Jika intensitas inframerah melebihi nilai ambang, maka keluaran digital sensor akan berubah sehingga dapat dikenali oleh mikrokontroler STM32 sebagai kondisi adanya api. Sensor dapat bekerja pada tegangan 3,3 V hingga 5 V dan memiliki sudut deteksi sekitar 60°.
Pada sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System Berbasis STM32 untuk Keselamatan Rumah Tinggal, flame sensor berfungsi sebagai pendeteksi dini kebakaran. Sensor ditempatkan pada area pemantauan dan akan terus melakukan pendeteksian terhadap radiasi inframerah yang berasal dari nyala api. Ketika api terdeteksi, sensor mengirimkan sinyal ke STM32 melalui pin input digital. Selanjutnya STM32 akan mengaktifkan buzzer sebagai alarm peringatan, memutus aliran listrik melalui relay untuk mengurangi risiko penyebaran kebakaran akibat korsleting, serta menampilkan pesan “KEBAKARAN TERDETEKSI” pada LCD 16×2. Dengan adanya flame sensor, sistem mampu memberikan peringatan lebih cepat sehingga potensi kerugian akibat kebakaran dapat diminimalkan.
- Sensor Asap dan Gas MQ-2
Prinsip kerja MQ-2 didasarkan pada perubahan resistansi material semikonduktor timah dioksida (SnO₂) ketika terpapar gas tertentu. Di dalam sensor terdapat elemen pemanas yang menjaga material sensitif pada temperatur kerja optimal. Saat konsentrasi gas mudah terbakar atau asap meningkat, resistansi sensor akan berubah sehingga menghasilkan perubahan tegangan keluaran yang dapat diukur oleh mikrokontroler.
Hubungan antara konsentrasi gas dan tegangan keluaran bersifat sebanding. Semakin tinggi konsentrasi gas atau asap yang terdeteksi, maka tegangan keluaran sensor akan semakin besar. Sebaliknya, ketika konsentrasi gas rendah, tegangan keluaran sensor juga akan rendah. Oleh karena itu, nilai tegangan keluaran dapat digunakan sebagai indikator tingkat keberadaan asap atau gas berbahaya di lingkungan.
Modul MQ-2 bekerja dengan tegangan suplai 5 VDC dan menyediakan dua jenis keluaran, yaitu keluaran analog (A0) dan keluaran digital (D0). Keluaran analog digunakan untuk membaca tingkat konsentrasi gas secara kontinu melalui ADC mikrokontroler, sedangkan keluaran digital digunakan untuk mendeteksi apakah konsentrasi gas telah melewati nilai ambang batas yang dapat diatur menggunakan potensiometer pada modul. Sensor memerlukan waktu pemanasan (warm-up) sebelum menghasilkan pembacaan yang stabil.
Dalam sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System, sensor MQ-2 digunakan sebagai pendeteksi awal kebocoran gas dan kemunculan asap akibat proses pembakaran. Ketika konsentrasi asap atau gas meningkat hingga melewati batas yang ditentukan, STM32 akan mengaktifkan buzzer, menampilkan pesan peringatan pada LCD, dan menjalankan prosedur keselamatan yang telah diprogram.
- Buzzer
Buzzer merupakan komponen elektronika yang berfungsi mengubah energi listrik menjadi energi suara. Buzzer banyak digunakan sebagai perangkat indikator atau alarm pada sistem peringatan karena mampu menghasilkan bunyi yang mudah didengar oleh pengguna. Secara umum, buzzer terdiri dari dua jenis, yaitu buzzer aktif dan buzzer pasif. Buzzer aktif memiliki osilator internal sehingga dapat langsung menghasilkan bunyi ketika diberikan tegangan DC, sedangkan buzzer pasif memerlukan sinyal pulsa atau gelombang tertentu dari mikrokontroler untuk menghasilkan suara.
Prinsip kerja buzzer didasarkan pada efek piezoelektrik atau elektromagnetik. Pada buzzer piezoelektrik, material piezoelektrik akan mengalami deformasi mekanik ketika diberikan tegangan listrik. Getaran yang dihasilkan akan menggerakkan diafragma sehingga menghasilkan gelombang suara. Frekuensi bunyi yang dihasilkan bergantung pada frekuensi sinyal masukan yang diberikan.
Dalam sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System, buzzer digunakan sebagai perangkat alarm utama untuk memberikan peringatan dini kepada penghuni rumah ketika terdeteksi kondisi berbahaya seperti overload listrik, kenaikan suhu berlebih, keberadaan asap, maupun indikasi kebakaran. Ketika STM32 menerima sinyal bahaya dari sensor, mikrokontroler akan mengaktifkan buzzer sehingga pengguna dapat segera mengetahui adanya potensi gangguan atau kebakaran.
- Relay Module
Relay merupakan saklar elektromekanik yang bekerja berdasarkan prinsip elektromagnetik. Relay memungkinkan sinyal berdaya rendah dari mikrokontroler digunakan untuk mengendalikan beban listrik yang memiliki tegangan atau arus lebih besar tanpa adanya hubungan listrik langsung antara kedua rangkaian.
Sebuah relay terdiri atas kumparan (coil), inti besi, pegas, dan kontak saklar. Ketika kumparan dialiri arus listrik, medan magnet akan terbentuk dan menarik kontak bergerak menuju kontak tetap. Perubahan posisi kontak ini menyebabkan rangkaian listrik dapat terhubung atau terputus sesuai kondisi yang diinginkan. Ketika arus pada kumparan dihentikan, pegas akan mengembalikan kontak ke posisi semula.
Modul relay yang digunakan bersama mikrokontroler biasanya telah dilengkapi transistor driver, resistor pembatas arus, LED indikator, dan dioda flyback untuk melindungi rangkaian dari tegangan induksi balik yang dihasilkan oleh kumparan relay saat proses switching.
Pada sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System, relay digunakan sebagai perangkat proteksi otomatis. Ketika STM32 mendeteksi kondisi overload listrik atau potensi kebakaran, relay akan memutus suplai daya menuju beban sehingga risiko terjadinya kerusakan instalasi maupun penyebaran kebakaran dapat diminimalkan.
- LCD I2C 16x2
LCD (Liquid Crystal Display) 16×2 merupakan perangkat tampilan yang mampu menampilkan 16 karakter pada setiap baris dan terdiri dari dua baris tampilan. LCD ini banyak digunakan pada sistem embedded untuk menampilkan informasi sensor, status sistem, maupun pesan peringatan kepada pengguna.
Pada sistem ini LCD dihubungkan menggunakan modul I2C yang umumnya menggunakan IC ekspander I/O PCF8574. Penggunaan modul I2C memungkinkan komunikasi antara STM32 dan LCD hanya melalui dua jalur komunikasi, yaitu SDA (Serial Data) dan SCL (Serial Clock). IC PCF8574 bertugas mengubah data serial dari jalur I2C menjadi data paralel yang dibutuhkan oleh pengontrol LCD.
Prinsip kerja LCD didasarkan pada perubahan orientasi molekul kristal cair ketika diberikan medan listrik. Perubahan orientasi tersebut akan mengatur intensitas cahaya yang melewati lapisan LCD sehingga karakter dapat ditampilkan pada layar. Pengendalian karakter dilakukan oleh kontroler LCD yang kompatibel dengan standar HD44780.
Pada sistem peringatan dini yang dirancang, LCD 16×2 berfungsi sebagai media antarmuka pengguna untuk menampilkan kondisi sistem secara real-time. Informasi yang ditampilkan antara lain kondisi normal ("SISTEM AMAN"), kondisi overload listrik, deteksi asap, kenaikan suhu, maupun indikasi kebakaran sehingga pengguna dapat mengetahui jenis bahaya yang sedang terjadi.
- STM32 BluePill
STM32F103C8T6 merupakan mikrokontroler berbasis arsitektur ARM Cortex-M3 32-bit yang diproduksi oleh STMicroelectronics. Mikrokontroler ini dikenal memiliki performa tinggi, konsumsi daya rendah, serta dilengkapi berbagai periferal yang mendukung pengembangan sistem embedded dan Internet of Things (IoT).
STM32F103C8T6 bekerja pada frekuensi maksimum 72 MHz, memiliki memori Flash sebesar 64 KB, SRAM sebesar 20 KB, serta berbagai antarmuka komunikasi seperti UART, SPI, dan I2C. Selain itu, mikrokontroler ini juga dilengkapi ADC 12-bit yang memungkinkan pembacaan data sensor analog dengan resolusi yang cukup tinggi.
Board pengembangan yang umum digunakan adalah Blue Pill, yaitu papan minimum system yang memuat mikrokontroler STM32F103C8T6 beserta rangkaian pendukung seperti regulator tegangan, kristal osilator, dan header GPIO. Board ini banyak digunakan dalam penelitian dan pengembangan sistem kontrol karena memiliki ukuran yang ringkas serta harga yang relatif ekonomis.
Pada sistem Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System, STM32F103C8T6 berfungsi sebagai pusat pengendali seluruh sistem. Mikrokontroler membaca data dari sensor ACS712, MQ-2, LM35, dan flame sensor, kemudian mengolah data tersebut untuk menentukan kondisi sistem. Berdasarkan hasil pengolahan data, STM32 akan mengendalikan buzzer, relay, dan LCD untuk memberikan peringatan serta melakukan tindakan proteksi secara otomatis apabila terdeteksi kondisi berbahaya.
5. Flowchart dan Listing Program [kembali]
- Flowchart Sistem
- main.c
- lcd.h
- lcd.c
#include "lcd.h"
#include "main.h"
#include <string.h>
/* LCD PIN */
#define LCD_RS_PORT GPIOA
#define LCD_RS_PIN GPIO_PIN_0
#define LCD_EN_PORT GPIOA
#define LCD_EN_PIN GPIO_PIN_1
#define LCD_D4_PORT GPIOA
#define LCD_D4_PIN GPIO_PIN_2
#define LCD_D5_PORT GPIOA
#define LCD_D5_PIN GPIO_PIN_3
#define LCD_D6_PORT GPIOA
#define LCD_D6_PIN GPIO_PIN_4
#define LCD_D7_PORT GPIOA
#define LCD_D7_PIN GPIO_PIN_5
/* =================================== */
static void LCD_EnablePulse(void);
static void LCD_Send4Bit(uint8_t data);
static void LCD_SendCommand(uint8_t cmd);
static void LCD_SendData(uint8_t data);
/* =================================== */
static void LCD_EnablePulse(void)
{
HAL_GPIO_WritePin(LCD_EN_PORT,
LCD_EN_PIN,
GPIO_PIN_SET);
HAL_Delay(1);
HAL_GPIO_WritePin(LCD_EN_PORT,
LCD_EN_PIN,
GPIO_PIN_RESET);
HAL_Delay(1);
}
/* =================================== */
static void LCD_Send4Bit(uint8_t data)
{
HAL_GPIO_WritePin(LCD_D4_PORT,
LCD_D4_PIN,
(data & 0x01) ? GPIO_PIN_SET : GPIO_PIN_RESET);
HAL_GPIO_WritePin(LCD_D5_PORT,
LCD_D5_PIN,
(data & 0x02) ? GPIO_PIN_SET : GPIO_PIN_RESET);
HAL_GPIO_WritePin(LCD_D6_PORT,
LCD_D6_PIN,
(data & 0x04) ? GPIO_PIN_SET : GPIO_PIN_RESET);
HAL_GPIO_WritePin(LCD_D7_PORT,
LCD_D7_PIN,
(data & 0x08) ? GPIO_PIN_SET : GPIO_PIN_RESET);
LCD_EnablePulse();
}
/* =================================== */
static void LCD_SendCommand(uint8_t cmd)
{
HAL_GPIO_WritePin(LCD_RS_PORT,
LCD_RS_PIN,
GPIO_PIN_RESET);
LCD_Send4Bit(cmd >> 4);
LCD_Send4Bit(cmd & 0x0F);
HAL_Delay(2);
}
/* =================================== */
static void LCD_SendData(uint8_t data)
{
HAL_GPIO_WritePin(LCD_RS_PORT,
LCD_RS_PIN,
GPIO_PIN_SET);
LCD_Send4Bit(data >> 4);
LCD_Send4Bit(data & 0x0F);
HAL_Delay(1);
}
/* =================================== */
void LCD_Init(void)
{
HAL_Delay(50);
HAL_GPIO_WritePin(LCD_RS_PORT,
LCD_RS_PIN,
GPIO_PIN_RESET);
LCD_Send4Bit(0x03);
HAL_Delay(5);
LCD_Send4Bit(0x03);
HAL_Delay(5);
LCD_Send4Bit(0x03);
HAL_Delay(5);
LCD_Send4Bit(0x02);
LCD_SendCommand(0x28);
LCD_SendCommand(0x0C);
LCD_SendCommand(0x06);
LCD_SendCommand(0x01);
HAL_Delay(5);
}
/* =================================== */
void LCD_Clear(void)
{
LCD_SendCommand(0x01);
HAL_Delay(2);
}
/* =================================== */
void LCD_SetCursor(uint8_t row, uint8_t col)
{
uint8_t address;
if(row == 0)
address = 0x80 + col;
else
address = 0xC0 + col;
LCD_SendCommand(address);
}
/* =================================== */
void LCD_Print(char *str)
{
while(*str)
{
LCD_SendData(*str++);
}
}
/* =================================== */
void LCD_PrintXY(uint8_t row,
uint8_t col,
char *str)
{
LCD_SetCursor(row,col);
LCD_Print(str);
}
6. Rangkaian Simulasi dan Prinsip Kerja[kembali]
Prinsip kerja sistem ini, antara lain :
Berdasarkan rancangan pada dokumen "Kelompok 22 - Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System Berbasis STM32 untuk Keselamatan Rumah Tinggal.pdf"
Namun, alur kerja akan berubah drastis menjadi mode pengamanan darurat ketika sensor mendeteksi adanya bahaya. Jika ACS712 membaca arus berlebih (overload) atau flame sensor mendeteksi percikan api, STM32 akan langsung mengirim data ke LCD untuk mengubah status bahaya ("OVERLOAD LISTRIK" atau "KEBAKARAN TERDETEKSI"), menyalakan alarm buzzer melalui pin PA8, serta memutus bias pada Transistor Q1 yang otomatis membuat sakelar relay terbuka untuk memadamkan total aliran listrik utama rumah demi mencegah kebakaran. Sementara jika sensor MQ-2 mendeteksi adanya asap, sistem akan memicu alarm suara dan mengubah tampilan LCD menjadi "ASAP TERDETEKSI" sebagai peringatan dini bagi penghuni.
7. Video Simulasi [kembali]
- Keberhasilan Perancangan Sistem: Proyek ini telah berhasil merancang sebuah prototype Smart Electrical and Fire Hazard Early Warning System menggunakan mikrokontroler STM32 Blue Pill sebagai pusat kendali utamanya
. Sistem ini mampu mengintegrasikan sensor arus ACS712, sensor asap MQ-2, dan flame sensor untuk memantau kondisi rumah dari potensi bahaya secara terus-menerus . - Mekanisme Respon Otomatis: Sistem terbukti dapat memberikan respons pengamanan dini yang efektif
. Ketika kondisi bahaya terdeteksi (seperti overload listrik, asap, atau api), sistem akan mengaktifkan buzzer sebagai alarm, memutus aliran listrik secara otomatis via relay untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, serta menampilkan status valid pada LCD 16x2 . - Dampak Bagi Masyarakat: Implementasi sistem EWS ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi keselamatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal
. Dengan adanya deteksi dini yang bersifat preventif ini, keterlambatan penanganan kebakaran akibat korsleting listrik dapat diminimalisir . Selain itu, proyek ini berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran (awareness) dan memberikan edukasi praktis kepada masyarakat mengenai pentingnya manajemen keselamatan instalasi listrik rumah tangga.
b. Saran
- Peningkatan Fitur Komparatif Terhadap MCB Konvensional: Mengingat subsistem pemutus arus menggunakan sensor ACS712 dan relay memiliki prinsip kerja yang serupa dengan MCB mekanis rumah tangga
, pengembangan ke depan sebaiknya memaksimalkan keunggulan digital dari STM32 . Disarankan untuk menambahkan fitur pengaturan batas arus (threshold) yang dapat diubah secara dinamis melalui software (bukan nilai kaku), serta pencatatan data log (data logging) konsumsi arus harian. - Integrasi Teknologi IoT (Internet of Things): Peringatan bahaya saat ini masih terbatas pada buzzer dan LCD di tempat kejadian
. Agar sistem perlindungan lebih optimal ketika rumah sedang kosong, disarankan untuk mengintegrasikan modul komunikasi seperti ESP8266 atau modul Wi-Fi sejenis. Dengan begitu, notifikasi bahaya (seperti "KEBAKARAN TERDETEKSI" atau "OVERLOAD") dapat dikirimkan langsung ke smartphone pemilik rumah atau dinas pemadam kebakaran setempat secara real-time . - Pengembangan Proteksi Fail-Safe pada Relay: Perlu dilakukan analisis lebih mendalam mengenai kapasitas pemutusan arus pada relay module yang digunakan
. Untuk implementasi pada beban rumah tangga yang sebenarnya (bukan sekadar prototype), disarankan menggunakan relay berkapasitas tinggi atau kontaktor magnetik yang memiliki ketahanan arc-extinguishing (peredam percikan api) yang baik agar tidak menjadi titik lemah baru yang memicu bahaya listrik.
- Download File Proteus Rangkaian (klik disini)
- Download File STM32 CubeIDE (klik disini)
- Download Video Demo (klik disini)
- Download Flowchart (klik disini)
- Download Listing Program (klik disini)
- Download Datasheet Sensor ACS712 (klik disini)
- Download Datasheet Sensor Flame Sensor (klik disini)
- Download Datasheet Sensor MQ -2 (klik disini)
- Download Datasheet Buzzer (klik disini)
- Download Datasheet Relay Module (klik disini)
- Download Datasheet LCD I2C 16 x 2 (klik disini)
- Download Library Flame Sensor (klik disini)
- Download Library Sensor MQ - 2 (klik disini)

Comments
Post a Comment